Ayunan Pertama Penentunya



Oleh: Joko Intarto

Berhasil atau tidak tujuan Anda, langkah pertama penentunya. Berhasil atau tidak langkah pertama, ayunan pertama penentunya.

Ayunan pertama. Itulah aksi nyata yang begitu sulit dikerjakan. Terutama oleh mereka yang hidupnya sudah merasa nyaman. Dan mapan.

Dan ayunan pertama di Lazismu, hari ini digerakkan amil-amil muda. Generasi milenial. Yang tinggal di daerah-daerah kecil. Yang dana operasionalnya pas-pasan. Yang tidak cukup kalau untuk membayar biaya pesawat dan hotel untuk pelatihan atau rapat konvensional. Sepenting apa pun. Kecuali dengan memaksakan diri.

Amil-amil muda berasal dari Palu, Pare Pare, Makassar, Denpasar, Sidoarjo, Jember, Magetan, Madiun, Gresik, Semarang, Jepara, Bantul, Pakem, Jogja, Solo, Tasik Malaya, Sukabumi, Banten, Lampung, Pekan Baru, Batam dan Aceh.

Jumlahnya 251 user. Melebihi kuota yang saya sediakan: 100 user. Ada yang mengikuti sendirian. Banyak pula yang bikin acara nonton bareng. Mirip nobar piala dunia.

Sengaja saya umumkan hanya membuka 100 peserta. Padahal, diam-diam, saya sudah membuka sistem video conference untuk 500 peserta.

Tema seminar online perdana Lazismu ini memang sangat seru: Analisis rendahnya pengumpulan dana zakat, infak dan sedekah di Indonesia serta alternatif solusinya. Tema ini dibawakan Dr Ascarya, peneliti dari Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia.

"Akar persoalannya adalah lemahnya database management," sentil doktor di bidang ekonomi syariah itu.

Ia lalu menggambarkan gelapnya hubungan antara dua data ini: potensi dan hasil. Dalam berbagai studi, ditemukan potensi sebesar Tp 261 triliun. Sedangkan seluruh lembaga zakat tahun 2018 baru bisa mengumpulkan Rp 6 triliun. Lembaga zakat tidak bisa menemukan hubungan kedua data itu.

"Ini karena sebagian besar lembaga zakat masih dikelola secara tradisional. Inilah salah satu sumber kelemahan dalam pengelolaan zakat, infak dan sedekah nasional," lanjutnya.

Eny M Wijayanti, ketua Badan Pengurus Lazismu, setuju dengan statement tersebut. "Saya sudah keliling di sebagian kantor Lazismu dan berdialog dengan para pengurus dan eksekutifnya. Mereka tahu ada potensi yang Rp 261 triliun itu. Tapi di bidang apa peluangnya? Bagaimana caranya? Ini yang mereka bingung," komentar Eny yang membuka seminar online itu dari rumahnya. Di Karang Anyar, Jawa Tengah.

Lembaga zakat harus melakukan revolusi dalam pengelolaan zakat. Secara internal. Dengan meningkatkan profesionalisme semua amilnya. "Lakukan pendekatan yang ilmiah. Berbasis data. Risetnya sudah banyak. Tinggal diakses dan dimanfaatkan," jelasnya.

Harus diakui. Lazismu memang masih lemah. Dalam pengelolaan database riset. Padahal, sudah banyak contoh sukses. Seperti Kantor Wilayah Jawa Timur. Kantor Wilayah Jawa Tengah. Dan Kantor Layanan Umsida Sidoarjo. Kantor-kantor itu berhasil tumbuh sangat baik. Karena memanfaatkan database.

"Kualitas sumber daya manusia memang memegang peranan yang besar. Lembaga zakat harus mau melalukan upgrade kualitas SDM," jelas Arcarya.

Nah, itu dia masalahnya. Membuat sistem pendidikan dan pelatihan amil bukan perkara mudah. Kantor Lazismu tersebar di 700 lokasi. Jumlah amilnya ribuan orang.

"Berapa banyak dana pelatihannya? Lazismu di daerah tidak akan sanggup. Kecuali, ada terobosan. Seperti pemakaian teknologi video conference ini," kata Ginanjar dari Banjarbaru, Kalsel.

"Ya itu gagasan yang baik. Lazismu Pusat akan memfasilitasi penyelenggaraan diklat online ini dalam waktu segera," sahut Eny M Wijayanti.

"Terima kasih untuk Lazismu Pusat yang akan memprakarsai diklat amil secara online. Bayangkan, kalau Lazismu Kantor Layanan Umsida Sidoarjo harus ikut pelatihan di Jakarta sehari saja, paling tidak habis Rp 3 juta. Hari ini saya tidak bayar apa-apa. Dapat ilmu yang sangat luar biasa," kata Yekti Pitoyo, yang ikut webinar seusai peresmian program Digital Fundraising.

Tak hanya peserta yang senang. Hilman Latief, Ketua Umum Lazismu, juga bangga. Dengan semangat amil Lazismu untuk terus belajar. "Amil Lazismu harus siap memasuki revolusi industri 4.0. Perubahan mindset adalah keharusan," komentar Hilman, yang memantau seminar online dari kampus Jogja. (jto)

Sumber artikel: Postingan oleh Eny M Wijayanti dalam grup WA Lazismu DIY.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.